Wednesday, October 26, 2005

THR (Tunjangan Hari Raya)

Minggu depan Lebaran. Buat yang bekerja sebagai karyawan, bisa dipastikan bahwa the hottest issue dalam hari-hari belakangan adalah tentang THR. Tunjangan Hari Raya. Di sebuah mailing list kepegawaian, ada posting yang menanyakan tentang bagaimana seharusnya THR diberikan kepada seluruh karyawan, apakah semua karyawan menerima THR pada saat yang sama yaitu pada hari Idul Fitri (Lebaran) atau bagi yang tidak merayakan Lebaran, harus ditunda sampai ke hari raya untuk agama yang bersangkutan??

Nah lho. Sepertinya ini hal yang simple. Pasti banyak yang beranggapan, ya karena (agamanya) tidak merayakan Lebaran, ya tidak dapat THR dong. Nanti kalau tiba waktu perayaan hari raya/besar agama karyawan tersebut baru diberikan THR nya. Padahal, Lebaran bukan lagi semata-mata hari raya besar keagamaan umat Islam. Lebaran sudah menjadi kenyataan kehidupan sosial masyarakat seluruh Indonesia, tanpa memandang agamanya. Semua masyarakat tanpa kecuali pasti merasakan pengaruh dan imbas dari event Lebaran di masyarakat kita. Siapa sih yang waktu Lebaran tidak memberikan "THR" untuk pembantu, satpam di kantor, tukang sampah di kompleksnya bahkan mungkin famili yang merayakan? Siapa yang tidak merasakan imbas kenaikan harga-harga menjelang Lebaran? Siapa yang tidak merasakan godaan konsumerisme yang semakin kuat di saat suasana Lebaran?

Mengaitkan pemberian THR berdasarkan agama yang dianut karyawan adalah praktek salah kaprah oleh perusahaan, yang didasari alasan yang tidak make sense. Dan sayangnya, banyak perusahaan yang melakukan hal seperti ini. Ingin save money? Sepertinya begitu.

Contoh peraturan perusahaan yang membedakan pemberian THR (didapat dari hasil search di Google).


Comments: Post a Comment



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?